Friday, April 10, 2015

Detik-Detik Pembacaan Naskah Proklamasi

loading...

Detik-Detik Jelang Proklamasi Kemerdekaan RI


Pagi harinya, tanggal 17 Agustus 1945  di kediaman Soekarno , jalan Pengasaan Tmur 56 dilksanakan pembacaan naskah proklamasi. Acara dimulai pada pukul 10.00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Selanjutnya, bendera merah putih yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirgo, Wakil Walikota Jakarta saat itu dan Moewardi Pimpinan Barisan Pelopor.


Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikan bendera tetapi ia menolak dengan alas an pengerekan bendera sebaiknay dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh karena itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut.
Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih) yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibat, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai saat ini bedera pusaka tersebut  masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.
Setelah upacara selesai, sebih kurang seratus orang anggota barisan pelopor yang dipimpin S. Brata dating terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pengasaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, tetapi ditolak. Akhirnya, Moh. Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.
Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini sebagai berikut : Kami bangsa Indonesia dengan ini  menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l. diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05, atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.

Tanggal pada naskah proklamasi ditulis tahun 05 karena sesuai dengan tahun Jepang yang pada saat itu adalah tahun 2605. Naskah autentik teks di atas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik, salah seorang tokoh pemuda yang ikut  andil dalam prsiapan proklamasi. Sementara isi naskahnya merupakan hasil pemikiran Drs. Muhammad Hatta, Ahmad Soebardjo dan Ir. Soekarno.

 

Penyebaran Berita Proklamasi


Pada pukul 03.00 dini hari, tanggal 17 Agustus 1945 atau sesaat  setelah rapat di rumah Maeda selesai, Bung Hatta menghampiri pemuda Burhanuddin Mohammad Diah(B.M. Diah). Kepada pemuda yang berkata pada Kantor Berita Domel milik Pemerintah Jepang, Bung Hatta berpesan, “Saudara sehari-harinya sudah bekerja keras, tetapi Saudara harus meneruskan pula dengan giat pekerjaan baru, yaitu memperbanyak teks proklamasi itu dan menyebarkannya ke seluruh Indonesia, sedapat-dapatnya. Saudara yang bekerja di Kantor Berita Domei, kawatkan sedapat-dapatnya berita proklamasi itu  ke seluruh dunia yang dapat dicapai”.

Berita tentang proklamasi  pun segera tersebar  ke seluruh penjuru Jakarta, bahkan secara estafet disebarkan ke berbagai tempat di Indonesia. Sesaat setelah proklamasi itu dibacakan, teks tersebut telah berada di tangan Waidan B. Palenewen  yang saat itu menjabat Kepala bagian Radio  dari Kantor Domei. Konon, ia menerima teks proklamasi itu dari Syahruddin, seorang Wartawan Domei. Waidan segera memerintahkan markonis F. Wuz untuk menyiarkannya tiga kali berturut-turut, Namun baru dua kali disiarkan mendadak dating serdadu Jepang yang melarang siaran itu. Larangan itu tidak digubris, bahkan diulangai setiap setengah jam sehingga siaran berhenti pukul  16.00.

Setidaknya ada tiga akibat yang muncul setelah siaran berita proklamasi itu.
  1. Pimpinan tentara pendudukan Jepang di Jawa menytakan berita itu sebagai kebohongan dan kekeliruan sehingga memerintahkan utuk diralat. Pemerintah Radio itu akhirnya disegel oleh Jepang tanggal 20 Agustus 1945 dan semua pegawainya dilarang masuk.
  2. Gunseikanbu memanggil Bung Kanno dan Bng Hatta untukmempertanggungjawabkan tindakannya. Bahkan mereka memerintahkan agar kedua tokoh itu membatalkan proklamasi yang telah terlanjur dibacakan, tetapi dengan tegas ditolak oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
  3. Ada upaya terakhir dari Jepang untuk membatalkan proklamasi yaitu dengan mendesak PPKI agar bersidang. Agendanya adalah membicarakan rencana kemerdekaan sebaai hadiah Jepang, sebagaimana pernah dijanjikan Jepang dahulu.
Bagaimana sikap rakyat setelah proklamasi kemerdekaan bangsa itu dibacakan? Reaksi rakyat diberbagai daerah bermacam-macam dan heroisme pun membubung tinggi. Apalagi selama pendudukan Jepang ada kebiasaan rakyat mengadakan rapat raksasa untuk mendengarkan pidato dari para pemimpin. Oleh karena proklamasi kemerdekaan merupakan peristiwa besar bagi bangsa Indonesia, untuk menyambutnya perlu diadakan rapat raksasa.

Rencana disusun oleh Komite van Aksi Menteng 31, tetapi baru pada tanggal  19 September 1945 rapat itu terlaksana. Ribuan rakyat Jakarta berkumpul di Lapangan Ikada dihadapan Tentara Jepang dengan bayonet terhunus. Untuk mencegah indisen dengan Tentara Jepang, Bung Karno berpidato singkat yang intinya memberi perintah untuk membatalkan rapat dan meminta agar rakyat percaya kepada Pemerintah Republik Indonesia yang akan mempertahankan Proklamasi  kemerdekaan. Setelah mendengar pidato Presiden, rakyatpun bubar dengan teratur tanpa isiden apapun.

loading...
Detik-Detik Pembacaan Naskah Proklamasi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Chumank Rush