Wednesday, August 12, 2015

Konfik Indonesia-Belanda dan Pengakuan Kedaulatan Indonesia Pasca Kemerdekaan

loading...


Perjuangan Bangsa Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan ternyata belum selesai, Belanda berusaha untuk berkuasa kembali di wilayah Indonesia. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945, Belanda belum memberikan pengakuan kedaulatan sehingga Belanda besiap-siap untuk kembali ke bekas jajahannya sebagai penguasa.


Kedatangan Bangsa Belanda ini diboncengi oleh Tentara Sekutu dan NICA. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus berusaha Mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pengakuan Kedaulatan Indonesia
sumber gambar : pusatgratis.com

Pada tanggal 24 Agustus1945 Belanda dan Inggris menandatangani Civil Affairs Agreement (CAA)  yang isinya antara lain penyerahan wilayah Indonesia yang telah “dibersihkan” oleh tentara Inggris kepada Netherlands Indies  Civil Administration (NICA). Hal itu dilakukan berdasarkan kesepakatan sekutu untuk mengembalikan situasi di Asia kepada status quo, seperti sebelum invasi Jepang. Kesepakatan ini dipertegas dan diformalkan dalam deklarasi Potsdam pada tanggal 26 Juli 1945. Adanya kesepakatan ini membuka kemungkinan bagi Belanda untuk kembali menjajah Indonesia pasca proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Tentara Sekutu di Indonesia dinamakan Allied Forces in th Netherland East Indies (AFNEI)  atau Tetara Sekutu Hndia Belanda dan dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison. Pasukan AFNEI di Indonesia adalah :

a.    Menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang,
b.    Membebaskan para tawanan perang dan  intermiran Jepang,
c.    Melucuti orang-orang Jepang kemudian dipulangkan ke negaranya.
d.    Menjaga keamanan dan ketertiban (law and order),
e.     Menghimpun keterangan guna menyelidiki pihak-pihak  yang dianggap sebagai penjahat perang.

 

Pertempuran di Berbagai Daerah Mempertahankan Kemerdekaan


Kedatangan pasukan Sektu yang diboncengi NICA mengundang perlawanan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Berikut berbagai perlawanan terhadap sekutu yang muncul di daerah-daerah.

Pertempuran Surabaya


Pertempuran di Surabaya merupakan rangkaian kegiatan yang diawali sejak kedatangan pasukan sekutu tanggal 25 Oktober 1945 yang dipimpin oleh Brijen A.W.S. Mallaby. Pada tanggal 30 Oktober 1945 terjadi pertempuran yang hebat di Gedung Bank  internasio di Jembatan Merah. Pertempuran itu menewaskan Brijen Mallaby. Akibat meninggalnya Mallaby, Inggris membuat ultimatum, yang isinya agar rakyat Surabaya menyerah kepada Sekutu dan pada saat itu rakyat Surabaya secara resmi  yang diwakili Gubernur Suryo menolak ultimatum Inggris. Pada tanggal 10 Nopember 1945 pagi hari, pasukan Inggris menyerahkan pasukan infantry dengan senjata berat dan menyerbu Surabaya dari darat, laut maupun udara. Bung Tomo berpidato untuk membangkitkan semangat rakyat. Pertempuran berlangsung selama tiga minggu.

Pertempuran Medan Area



Pertempuran mempertahankan kemerdekaan Indonesia lainnya terjadi di Medan. Pada tanggal 9 Oktober 1945 tentara Inggris yang diboncengi oleh NICA mendarat di Medan di bawah pimpinan Brijen T.E.D. Kelly. Awalnya mereka diterima secara baik oleh Pemerintah RI di Sumatra Utara sehubungan dengan tugasnya untuk membebaskan tawanan perang (Tentara Belanda). Sebuat insiden terjadi di hotel jalan Bali, Medan pada tanggal 13 Oktober 1945. Saat itu penguhni hotel  (pasukan NICA)  merampas dan menginjak-injak lencana Merah Putih  yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan para pemuda. Akibatnya terjadi perusakan dan penyerangan terhadap hotel yang banyak dihuni Pasukan NICA. 

Pada tanggal 1 Desember 1945 pihak sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixet Boundaries Medan Area  diberbagai sudut kota Medan. Hal ini menimbulkan reaksi para pemuda dan  TKR untuk melawan kekuatan asing  yang mencoba berkuasa kembali. Pada tanggal 10 Agustus 1946 di Tebingtinggi diadakan pertemuan antara komandan-komandan pasukan yang bertugas di Medan Area dan memutuskan untuk dibentuk satu komando yang bernama Resimen Laskas Rakyat Medan Area.

 

Peristiwa Bandung Lautan Api


Pada tanggal 21 November 1946 Sekutu mengeluarkan ultimatum yang berisi tuntutan agar Kota Bandung bagian utara dikosongkan oleh para pejuang. Pemerintah RI di Jakarta memerintahkan agar RTI mengosongkan Kota Bandung, pada tanggal 23-24 Maret 1946 para pejuang meninggalkan Kota Bandung, tujuannya agar Sekutu tidak dapat menduduki dan memanfaatkan sarana-sarana yang vital. Untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, seluruh kota bandung di bumi hanguskan oleh penghuninya sendiri agar nantinya pasukan sekutu tidak dapat memanfaatkan fasilitas sarana da prasarana yang terlebih dulu ada.

Perundingan Linggar Jati


Perundingan Linggarjati diprakarsasi oleh Lord Kiliearn  (Inggris) dan dilaksanakan pada tanggal 10 Nopember 1946, dan pada perundingan tersebut Indonesia mengirim delegasi  yang terdiri dari Sutan Syahrir (Ketua), Mr. MOh. Roen, Mr. Susanto, Tirtoprodjo dan dr. A.K.Gani. Berikut ini adalah pokok isi  Perundingan Linggarjati :
  • Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia secara de facto atas Jawa, Madura dan Sumatra.
  • Republi Indonesia dan Belanda akan bekerja sama membentuk RIS (Republik Indonesia Serikat)  yang salah satu Negara bagiannya adalah Republik Indonesia.
  • RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.

 

Agresi Militer Belanda dan Perundingan Renvile


Perbedaan tafsir antara Indonesia Belanda berkaitan dengan isi naskah perundingan Linggarjati pada akhirnya melahirkan Agresi Militer I yang dilancarkan pada tanggal 21 Juli 1947, dan membuka mata dunia sehingga masalah Indonesia dimasukan ke dalam acara Sidang Keamanan PBB pada tanggal 31 Juli 1947, dan PBB menyerukan kepada pihak-pihak yang bertikai untuk menghentikan tembakan-tembakan  dan menyelesaikan pertikaian dengan arbitrase atau cara-cara lain. Dewan Keamanan mengusulkan suatu Komisi jasa baik  yang kemudian dikenal dengan sebutan Komisi Tiga Negara (KTN). Seorang anggota KTN dipilih oleh Indonesia yaitu Richard Kirby dari Australia, Belanda memilih Paul van Zeeland dari Belgia dan sebagai penengah terpilih Dr. Frank Graham dari Amerika Serikat.
Perundingan Renvile dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 1947 di atas Kapal  USS Renvile  milik Amerika Serikat. Pada perundingan tersebut  delegasi Indonesia dipimpin oleh Mr. Amir Syarifuddin, delegasi Belanda dipimpin oleh R. Abdulkadir Wijoyoatmojo (orang Indonesia yang memihak Belanda). 

Isi dari perjanjian Renville yaitu :
  • Persetujuan tentang gencatan senjata yang antara lain diterimanya garis demarkasi van Mook. (menghasilkan sepuluh pasal).
  • Dasar-dasar politik Renvile yang berisi tentang kesediaan kedua pihak untuk menyelesaikan pertikaiannnya dengan cara damai (menghasilkan dua belas pasal).
  • Enam pasal tambahan dari KTN yang berisi tentang kedaulatan Indonesia yang berada di tangan Belanda selama masa peralihan sampai penyerahan kedaulatan.

 

Agresi Militer Belanda II


Hubungan Indonesia dan Belanda terus memburuk, dengan keluarnya surat pernyataan dari Wakil Tinggi Mahkota Belanda Dr. Beel yang menyetakan bahwa Belanda tidak terikat lagi oleh persetujuan gencatan senjata yang tercantum dalam perundingan Renvile. Pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948  tiba-tiba pesawat terbang Belanda melancarkan serangan dengan melakukan pemboman di lapangan terbang Maguwo dan bangunan penting di Ibu kota Yokyakarta. Belanda berhasil menawan para Pemimpin Republik Indonesia. Sebelum Soekarno ditangkap Belanda telah mengadakan sidang darurat yang isinya Presiden akan mengirimkan radiogram  kepada Mentri Kemakmuran Syarifuddin Prawiranegara yang isinya untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatra Barat (PDRI).
Agresi Militer II akhirnya diketahui oleh dunia internasional. Hal itutidak terlepas dari peranan beberapa diplomatic kita seperti Palar, Sujatmoko dan Sumitro dan akibat tindakan Agresi Militer II tersebut mendapat reaksi dari dunia internasional. Tangga. 24 Desember 1948 Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi  yang isinya menghentikan tembak menembak dengan segera dan memebaskan Presiden Republik Indonesia dan para pimpinan politik yang ditawan Belanda.

Perundingan Roem-Royen dan Komperensi Menja Bundar


Pada tanggal 14April 1949 atas desakan Amerika Serikat, berlangsung perundingan Roem Royen dan Indonesia diwakili oleh Moh. Roem dan Belanda oleh van Royen dan isi perundingan Roem Royen adalah adanya perintah penghentian tembak menembak dan kesepakatan untuk mengadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Negeri Belanda. Dalam KMB  delegasi Indonesia dipimpin oleh Moh. Hatta, sedangkan belanda dipimpin oleh Mr. van Maarseven, setelah melalui pembahasan dan pedekatan tanggal 2 Nopember 1949  isi KMB menghasilkan keputusan sebagai berikut :
  • Belanda mengakui keberadaan RIS (Republik Indonesia Serikat) sebagai Negara yang mereka dan berdaulat. RIS terdiri atas Republik Indonesia dan liam belas Negara bagian yang dibentuk Belanda.
  • Masalah Irian Barat akan diselesaikan setahun kemudian setelah pengakuan kedaulatan.
  • Corak pemerintah RIS akan diatur dengan konstitusi yang dibuat oleh para delegasi Republik Indonesia BFO selama KMB berlangsung.
Berdasarkan hasil KMB Indonesia berhasil mendapatkan pengakuan Kedaulatan dari Belanda. Pada tanggal 23 Desember 1949 Drs. Moh. Hatta selaku delegasi RIS berangkat ke Belanda untuk menandatangani naskah pengakuan kedaulatan yang berlangsung di dua tempat, yaitu di Negeri Belanda dan Indonesia. Naskah pengakuan kedaulatan ditandatangani pada tanggal 27 Desember 1949 dan dengan adanya pengakuan kedaulatan tersebut kepada RIS pada tanggal 27 Desember 1949 berakhirlah sejarah perjuangan kemerdekaan dan Revolusi fisik di Indonesia.

loading...
Konfik Indonesia-Belanda dan Pengakuan Kedaulatan Indonesia Pasca Kemerdekaan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Chumank Rush