Wednesday, November 4, 2015

Sejarah Konferensi Meja Bundar dan Pengaruhnya

loading...


Pada tanggal 29 Agustus 1949, Konferensi Meja Bundar dibuka secara resmi di kota Den Haag, Belanda. Konferensi itu diikuti oleh delegasi RI, BFO, Belanda dan UNCI. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Moh. Hatta, delegasi Belanda dipimpin oleh van Maarseven, BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II, sedangkan delegasi UNCI yang hadir antara lain Herlemans, Merle Cochran, dan Critchley.
Setelah berlangsung perdebatan yang alot mengenai Uni Indonesia Belanda dan hutang Hindia Belanda, KMB mencapai kesepakatan pada tanggal 2 November 1949. Hasil terpenting KMB adalah piagam pengakuan kedaulatan.
Hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) antara lain :
  1. Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia sepenuhnya dan tanpa syarat. Pengakuan kedaulatan akan dilaksakan selambat-lambatnya pada tanggal 30 Desember 1949.
  2. RIS  tediri dari RI dan 15 negara federal. Corak pemerintahan RIS diatur menurut konstitusi yang dibuat oleh delegasi RI dan BFO selama KMB berlangsung.
  3. RIS dan Kerajaan Belanda akan membentuk Uni Indonesia Belanda di bawah pimpinan Ratu Belanda. Uni itu merupakan badan konsultasi bersama untuk menyelesaikan kepentingan umum.
  4. Pasukan Belanda akan ditarik mundur dari Indonesia, sedangkan KNIL akan dibubarkan, dengan catatan bahwa anggotanya boleh masuk dalam jajaran TNI.
  5. Masalah Irian Barat akan diselesaika setahun kemudian setelah penyerahan kedaulatan RIS.
Berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar pada tanggal 27 Desember 1949, diadakan acara penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada Indoensia baik di Jakarta maupun di negeri Belanda. Ratu Yuliana menandatangani piagam pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat di Amsterdam. Pada saat yang bersamaan di Jakarta bertempat di Istana Merdeka, berlangsung penandatanganan pengakuan kedaulatan dari Wali Tinggi Mahkota Belanda Lovink kepada wakil pemerintah RIS Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Dengan disetujuinya hasil-hasil Konferensi Meja Bundar (KMB), maka terbentuklah Republik Indonesia Serikat (RIS). Negara Indonesia serikat ini terdiri atas 16 negara bagian dan masing-masing mempunyai luas daerah dan jumlah penduduka berbeda.
Pada tanggal 14 Desember 1949, di Jakarta diadakan suatu permusyawaratan wakil-wakil negara federal yang akan menjadi bagian  dari negara RIS. Pertemuan itu membahas dan menyetujui naskah Undang-Undang Dasar Sementara RIS. Naskah Rancangan UUD RIS ini telah dibahas oleh wakil-wakil RI dan dan negara federal di Schevenigen, Belanda pada 29 Oktober 1949, ketika KMB berlangsung.Persetujuan itu berupa piagam yang telah ditandatangani oleh para wakil-wakil negara tersebut.
Berdasarkan konstitusi RIS, anggota RIS yang berbentuk federasi ini adalah sebagai berikut :
1.    Negara Republik Indonesia (Wilayah Berdasarkan Perjanjian Renville)
2.    Negara Indonesia Timur
3.    Negara Pasundan termasuk Distrik Federal Jakarta
4.    Negara Jawa Timur
5.    Negara Sumatera Timur, termasuk daerah status quo Asahan Selatan dan Labuhan Batu
6.    Negara Sumatera Selatan
7.    Satuan-satuan kenegaraan yang berdiri sendiri, seperti Jawa Tengah, Bangka, Belitung, Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Dayak Besar, Kalimantan Tenggara, Kalimantan Timur dan Daerah Banjar.
8.    Daerah-daerah Indonesia lainnya yang bukan daerah-daerah bagian.
Pemerintahan dipegang oleh presiden dengan kabinetnya, sedangkan dewan legislatif terdiri atas dua badan, yaitu senat dan DPR. Senat merupakan perwakilan negara/ daerah bagian yang masing-masing berhak diwakili satu orang. DPR beranggotakan 150 orang sebagai wakil seluruh rakyat Indonesia. senat juga berfungsi sebagai penasehat pemerintah.

sejarah konferensi meja bundar
Kemudian direncanakan pemilihan presiden RIS. Mula-mula, dibentuk Panitia Pemilihan Nasional (PPN) dengan ketua Mr. Mohammad Roem dan Anak Agung Gede Agung sebagai wakilnya. Pada tanggal 15 Desember 1949, diadakan pemilihan Presiden RIS dengan calon tunggal Ir. Soekarno. Keesokan harinya, secara aklamasi Soekarno terpilih sebagai Presiden RIS. Sehari kemudian, pada tanggal 17 Desember 1949, bertempat di Bangsal Sitihinggil Keraton Yogyakarta, Ir. Soekarno dilantik secara resmi sebagai presiden RIS yang diketuai oleh Ketua Mahkamah Agung, Mr. Kusuma Atmaja. Kemudian, Drs. Moh. Hatta, Wakil Presiden RI, diangkat sebagai Perdana Menteri RIS dan dilantik pada tanggal 20 Desember 1949.

Kabinet RIS ini merupaka zaken kabinet, yang berarti bahwa kabinet ini mengutamakan keahlian para anggotanya dan bukan kabinet koalisi yang bersandar pada kekuatan partai-partai politik. Anggota kabinet ini sebagian besar adalah pendukung unitarisme.
Dengan diangkatnya Ir. Soekarno, Presiden RI menjadi Presiden RIS, pada tanggal 27 Desember 1949, Mr. Asaat, Ketua KNIP ditunjuk sebagai Presiden RI. Pelantikan diadakan dengan upacara serah terima jabatan dari Ir. Soekarno kepada Mr. Asaat. Dengan demikian lengkaplah organisasi kenegaraan RIS.
Demikianlah sejarah konferensi meja bundar (KMB). Semoga bermanfaat.  

loading...
Sejarah Konferensi Meja Bundar dan Pengaruhnya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Chumank Rush