Wednesday, November 4, 2015

Sejarah Perjanjian Roem Royen dan Konferensi Inter-Indonesia

loading...


Sejarah Perjanjian Roem Royen


Untuk menjamin terlaksananya penghentian Agresi Militer Belanda II, maka PBB membentuk United Nations Comission for Indonesia (UNCI) atau Komisi PBB untuk Indonesia. komisi itu berhasil mempertemukan Indonesia dan Belanda pada sebuah perundingan yang diadakan di Jakarta mulai pada tanggal 14 April 1949.
Delegasi RI dipimpin oleh Mr. Mohammad Roem sedangkan pihak Belanda dipimpin oleh J.H. van Royen. Pada tanggal 7 Mei 1949 dicapai persetujuan yang dikenal dengan nama persetujuan Roem-Royen. Tokoh UNCI yang sangat berperan besar dalam perjanjian Roem Royen adalah Merle Cohcran dari Amerika Serikat.
Isi perundingan Roem Royen adalah pernyataan dari kedua negara. Isi persetujuan Roem Royen menyatakan bahwa Indonesia bersedia untuk :
  1. Memberikan perintah kepada TNI untuk menghentikan perang gerilya.
  2. Bekerja sama mengendalikan perdamaian, ketertiban dan keamanan.
  3. Turut serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag untuk mempercepat pengakuan kedaulatan negara kepada Negara Indonesia Serikat secara lengkap dan tanpa syarat.
Sementara itu, isi perjanjian Roem Royen menyatakan bahwa pihak Belanda bersedia untuk :
  1. Menyetujui kembalinya Pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta.
  2. Menjamin penghentian gerakan-gerakan militer dan membebaskan semua tahanan politik.
  3. Tidak mendirikan atau mengakui negara-negara yang ada di daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia sebelum 19 Desember 1948 dan tidak akan meluaskan negara atau daerah yang akan merugikan Republik Indonesia.
  4. Menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat.
  5. Berusaha dengan sungguh-sungguh agar KMB segera diselenggarakan sesudah Pemerintah RI kembali ke Yogyakarta
Sebagai tindak lanjut dari persetujuan Roem Royen, pada tanggal 22 Juni 1949 diadakan perundingan konsultasi antara RI, BFO (Bijeenkomse voor Federal Overleg/ Badan Permusyawaratan Federal), dan Belanda di Bangka. Perundingan ini ada di bawah komisi PBB yang dipimpin oleh Critchley dari Australia.
Perundingan ini dikenal dengan nama kesepakatan Bangka yang hasilnya adalah sebagai berikut :
  1. Tanggal 24 Juni 1949, Yogyakarta dikosongkan oleh tentara Belanda dan pada 1 Juli 1949, Pemerintah RI kembali ke Yogyakarta setelah pasukan TNI menguasai keadaan.
  2. Mengenai penghentian permusuhan akan dibahas setelah Pemerintah RI kembali ke Yogyakarta.
  3. Konferensi Meja Bundar diusulkan akan diadakan secepatnya di Den Haag.

 

 
sejarah perjanjian roem royen

Sejarah Konferensi Inter Indonesia


Menjelang diadakannya Konferensi Meja Bundar, maka pada tanggal 19-22 Juli 1949 berlangsung Konferensi Inter Indonesia di Yogyakarta. Konferensi dilanjutkan lagi pada tanggal 30 Juni-2 Agustus 1949 di Jakarta. Konferensi itu dihadiri oleh utusan pemerintah RI dengan para pimpinan BFO.
Konferensi Inter-Indonesia dilatarbelakangi oleh keinginan menjalin persatuan dan sikap bersama untuk menghadapi Belanda dalam KMB nanti. Perlu diketahui, Indonesia ketika itu terdiri atas RI dan negara-negara federal yang dibentuk Belanda. Setelah KMB, RI bersama negara-negara federal menjadi negara-negara bagian dalam suatu negara serikat.
Pembicaraan utama dalam Konferensi Inter-Indonesia mengenai pembentukan sebuah negara federasi yang menggabungkan negara-negara yang diciptakan van Mook. Para peserta  konferensi yang mewakili negara-negara bagian itu membahas tentang pembagian wewenang dari masing-masing negara bagian. Di samping itu, dibicarakan juga tentang bentuk kerja sama RIS-Belanda.
Beberapa keputusan penting dari Konferensi Inter-Indonesia yang berkaitan dengan ketatanegaraan Negara Indonesia Serikat adalah sebagai berikut :
  1. Negara federasi disetujui bernama Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan berdasarkan asas demokrasi dan federalisme.
  2. Kepala Negara RIS adalah seorang presiden dan dalam pemerintahan dibantu oleh sebuah kabinet yang bertanggung jawab kepada presiden (kabinet presidensial).
  3. Akan dibentuk dua badan perwakilan, yaitu sebuah dewan perwakilan rakyat sebuah dewan perwakilan rakyat (senat). Namun, langkah awal akan dibentuk dewan perwakilan rakyat sementara.
  4. RIS  menerima penyerahan kedaulatan, baik dari Republik Indoenesia maupun dari Kerajaan Belanda.
Selain itu, di bidang militer Konferensi Inter Indonesia menghasilkan keputusan antara lain :
1.    Angkatan Perang RIS (APRIS) adalah Angkatan Perang Nasional dan Presiden RIS adalah panglima tertinggi APRIS. Pembentukan APRIS ini merupakan soal Indonesia yang berintikan TNI.
2.    Pertahanan negara adalah semata-mata hak pemerintah RIS. Negara-negara bagian tidak akan memiliki angkatan perang sendiri.
3.    Pembentukan APRIS adalah persoalan bangsa Indonesia. angkatan perang ini terdiri dari angkatan perang RI (TNI) sebagai inti, ditambah orang Indonesia yang ada di dalam KNIL, ML, KM, VB, dan territoriale bataljons.
4.    Pada masa permulaan RIS, menteri pertahanan dapat merangkap sebagai Panglima Besar APRIS.
Dari hasil Konferensi Inter-Indonesia itu, terlihat bahwa RI dan BFO sepakat untuk secara bersama-sama menghadapi Belanda dalam KMB.
Demikianlah sejarah singkat mmengenai perjanjian Roem Royen dan Konferensi Inter-Indonesia Belanda. Semoga bermanfaat.

loading...
Sejarah Perjanjian Roem Royen dan Konferensi Inter-Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Chumank Rush