Friday, January 15, 2016

Sejarah Organisasi Sarekat Islam (SI)

loading...

Sarekat Islam sebenarnya merupakan penjelmaan dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan di Surakarta pada tahun 1911 oleh Haji Samanhudi, seorang pengusaha kain batik. Tujuan didirikannya Sarekat Dagang Islam adalah untuk mengimbangi pedagang-pedagang Timur Asing, yaitu Cina, India dan Arab yang saat itu memiliki perekonomian yang lebih maju dibandingkan bangsa Indonesia sendiri, khususnya bagi yang beragama Islam.
 
Pada tahun 1912, Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam. Hal ini dilakukan agar tidak menutup kemungkinan organisasi Sarekat Islam bergerak di bidang lain, misalnya politik. Bila ditinjau dari anggaran dasarnya, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan organisasi Sarekat Islam adalah sebagai berikut :
a.    Mengembangkan jiwa dagang bagi anggota-anggotanya.
b.    Membantu anggota-anggotanya yang kesulitan dalam berusaha.
c.    Memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat.
d.    Memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru terhadap Agama Islam.
e.    Hidup menurut perintah ajaran Agama Islam
 
Dari tujuan Sarekat Islam yang tercantum dalam anggaran dasarnya, tidak terlihat adanya unsur politik. Namun, dalam kegiatannya Sarekat Islam menaruh perhatian besar terhadap hal-hal yang sebenarnya mengandung unsur-unsur politik, serta dengan gigih menentang ketidakadilan serta pemerasan dan penindasan oleh pemerintah kolonial.
 
Cita-cita dan aksinya disebarkan secara luas oleh surat kabar, sehingga tidak heran dalam waktu singkat Sarekat Islam telah memiliki jumlah anggota yang banyak, tetapi bagi pemerintah Hindia-Belanda, perkembangan Sarekat Islam menimbulkan kekhawatiran.  Oleh karena itu, Gubernur Jenderal Idenburg merasa perlu meminta nasihat kepada residen dalam menetapkan kebijakan politiknya.
 
Pada bulan  Agustus 1912 pemerintah mengeluarkan peraturan umum bahwa Sarekat Islam dilarang menerima anggota baru, mengadakan rapat-rapat, serta penggeledahan rumah-rumah. Kemudian pada tahun 1913, dikeluarkan peraturan yang menetapkan bahwa organisasi cabang harus berdiri sendiri (Sarekat Islam Daerah) yang boleh diurus oleh suatu badan sentral (Central Sarekat Islam). Pada tahun 1915, Sarekat Islam berhasil membentuk 50 cabang organisasinya.
 
Kongres Sarekat Islam yang pertama dilaksanakan di Surabaya pada bulan Januari 1913. Pada kesempatan ini ditegaskan bahwa Sarekat Islam bukan partai politik dan tidak bermaksud menentang pemerintah Hindia-Belanda. Tokoh yang terpilih sebagai ketua Sarekat Islam adalah Haji Omar Said Tjokroaminoto. Surabaya ditetapkan sebagai pusat kedudukan organisasi Sarekat Islam. Dalam kongresnya di Solo ditetapkan bahwa Sarekat Islam hanya terbuka bagi bangsa Indonesia yang beragama Islam serta pegawai negeri tidak diperbolehkan menjadi anggota.
 
Sarekat Islam sebagai organisasi besar, akhirnya terpecah karena disusupi oleh anggota-anggotanya sendiri yang terpengaruh paham sosialis yang dibawa oleh seorang Belanda bernama Sneevliet, melalui organisasinya yang disebut Indische Socialistiche Democratische Vereeniging (ISDV).
 
Anggota-anggota Sarekat Islam yang terpengaruh paham sosialis yang dikemudian hari dikenal sebagai tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia, antara lain Semaun, Darsono, Alimin, Muso, dan Tan Malaka. Mereka secara diam-diam menyebarkan ajaran ISDV di kalangan anggota maupun pengurus Sarekat Islam dan secara terang-terangan menentang kebijakan pemimpin Sarekat Islam, HOS Cokroaminoto sehingga dalam kongresnya di Surabaya pada tahun 1921, Cokroaminoto mengambil tindakan disiplin partai yang intinya menyodorkan kepada mereka yang selama itu menentang kebijakan pemimpin partai serta tidak loyal, agar memilih menjadi anggota Serekat Islam atau keluar dari Serekat Islam.
 
Ternyata, mereka lebih suka keluar dari Serekat Islam, tetapi menggunakan nama Serekat Islam di dalam kelompok mereka. Oleh karena itu, timbul sebutan Serekat Islam Putih yang dipimpin HOS Tjokroaminoto dan Serekat Islam Merah yang dipimpin oleh Semaun.
 
Sarekat Islam merah yang berpusat di Semarang dalam kegiatannya menempuh berbagai cara untuk mencapai cita-citanya, termasuk memutarbalikkan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk mempengaruhi masa. Tindakan Serekat Islam Merah ini memang sesuai dengan ajaran ISDV yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan cita-cita.
 
sejarah organisasi sarekat Islam
Serekat Islam Merah akhirnya berubah menjadi Serekat Rakyat, kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia pada tahun 1924. Serekat Islam Putih berubah nama menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1929. Walaupun telah diadakan pembenahan dan perubahan nama partai, pertentangan-pertentangan terus saja berlangsung terutama antara golongan tua dan golongan muda.
 
Akibatnya, pada tahun 1932 terjadi lagi perpecahan dalam Sarekat Islam menjadi tiga bagian, yaitu :
1.    Partai Islam Indonesia (PARII) dipimpin oleh dr. Soekirman yang berpusat di Yogyakarta.
2.    PSII yang masih tetap berdiri dipimpin oleh Abikoesno Tjokrosoeyoso.
3.    Barisan Penyadar yang didirikan oleh Agus Salim dan Sangaji yang berpusat di Surabaya.
 
Tatangan yang dihadapi PSII ternyata belum juga berakhir. Pada tahun 1940 Sekarmadji Maridjan Kertasuwirjo mendirikan PSII tandingan di Jawa Barat  yang dikemudian hari berubah menjadi Darul Islam. Akibat sering terjadinya perpecahan, PSII akhirnya mengalami kemunduran. Peranan sebagai Partai Islam diambil alih oleh Partai Islam Indonesia yang dipimpin oleh dr. Soekirman. 

loading...
Sejarah Organisasi Sarekat Islam (SI) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Chumank Rush